Enterpreneurship Untuk Perdamaian Posted August 26, 2014 by kocida

Off

Dalam kasus kekerasan bermotif agama, faktor ekonomi dan sosial memang tampak dominan.  Kesenjangan sosial-ekonomi, ditambah dengan minimnya pemahaman agama menjadi pemicu utama terjadinya konflik dan kekerasan. Karena itulah, penguatan perspektif keagamaan dan gerakan kewirausahaan mempuyai peran penting dalam menjaga perdamaian.

Itulah sekelumit alasan diselenggarakanya Training of Trainer “Kewirausahaan untuk Toleransi” kerjasama antara The WAHID Institute dengan Universitas Ciputra Entrepreneurship Center pada  19-22 Agustus 2014

Menurut Alamsyah M DJafar, jika ekonomi adalah salah satu soal penyebab kekerasan atau bentuk-bentuk pikiran intoleran, maka penguatan kewirausahaan bisa menjadi solusinya.  “Selain bertujuan untuk bertujuan meningkatkan pengetahuan, skill, dan pengalaman di bidang kewirausahaan,  pelatihan ini juga bertujuan untuk menciptakan pendamping masyarakat bidang kewirausahaan yang mampu menjadi inisiator kegiatan-kegiatan kewirausahaan inovatif,” kata Alam.

Menurut BPS 2014 pertumbuhan wirausahawan di Indonesia hanya mencapai 1.56 persen, sekitar 4 juta orang. Namun jika dibandingkan dengan negara lain seperti  Tiongkok dan Jepang jumlah ini kalah jauh. Di dua negara ini, 10 persen jumlah penduduk merupakan penguasaha yang menopang perekonomian nasional mereka.

Sementara itu menurut Visna Vulovik, Kordinator Community Microeconomic Development, di Indonesia sendiri terdapat 55,53 juta usaha mikro, kecil, dan menengah UMKM. Dan 54 juta diantaranya usaha mikro. Karena itu, untuk pertumbuhan ekonomi mikro, kewirausahaan ini sangat penting.

Menurut Visna, untuk menjadi pendamping komunitas dengan fokus pada pemberdayaan ekonomi di wilayah konflik keagamaan, pengetahuan akan toleransi dan perdamiaan saja tidak cukup, harus ada pengetahun lain, yaitu kewirausahaan.

“Modal finansial memang penting, tapi tidak cukup untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Harus ada penguatan  dan skill kewirausahaan. Pemberdayaan masyarakat, mengharuskan adanya dua  intervensi, power dalam artian pengetahuan dan resurces yang salah satunya adalah akses ekonomi” tegas Visna (kcd).