Off

Koflik keagamaan tidak semata-mata didasari oleh perbedaan paham. Faktor ekonomi dan sosial memainkan peran kuat. Karena itu, perdamaian dan toleransi akan sangat sulit tercipta ketika akar konflik itu tidak terselesaikan. Pembedayaan ekonomi The WAHID Insitute melalui Kocida (Koperasi Cinta Damai) pada dasarnya ingin merealisasikan prinsip Gus Dur bahwa ‘Perdamaian Tanpa Keadilan Adalah Ilusi.’

“Akan sangat sulit mendamaikan suatu kelompok yang bertikai ketika masih terjadi kesenjangan dan kemiskinan. Kocida sendiri bertujuan memberdayakan ekonomi dan menciptakan perdamaian” kata Visna Vulovik, Kordinator Porgram Kocida dalam “Ekspert Meeting Microeconomic for Peace, di kantor the WAHID Institute, 13 Agustus 2014.

“Jadi yang dilakukanThe WAHID Institute selama 9 tahun lebih banyak menyasar kelompok Islam progresif, maka program ini ingin menyasar langsung kelompok akar rumput. Pengembangan ekonomi diharapkan bisa menjadi media kohesi sosial sekaligus memutus rantai kesenjangan sosial di masyarakat. Goal yang ingin kami capai adalah kemajuan perdamaian dan toleransi melalui penguatan kondisi ekonomi dan sosial-politik pada komunitas-komunitas di wilayah-wilayah yang rentan konflik” kata Visna.

Menanggapi pernyataan tersebut, President Micro Business & Product Development Bank Mandiri, Nurcholis Wahyudi menjelaskan bahwa berdasarkan pengalaman Bank Mandiri apa yang perlu diperhatikan dalam microeconomic adalah prinsip “cepat, dekat dan sederhana”.

Cepat dalam arti untuk cepat tanggap atas kebutuhan pembiayaaan.Dekat, maksudnya selalu disiplin terhadap territorial, bahwa harus dekat dengan wilayah agar tidak buang waktu, mudah melakukan monitoringdan untuk menjalin hubungan hubungan emosi, karena ini tidak sekedar bank komersial. Dari sisi persyaraatan dan komunikasinya harus mudah dan tidak ada istilah bunga, inilah yang dimaksud sederhana.

“Segmen microfinance itu sangat rentan terhadap isu, sehingga hubungan emosional dengan masyarakat harus menjadi perhatian utama. Hubungan emosional ini bisa dibangun dengan mempertimbangkan aspek kesamaan antara pendamping dan mitra. Disatu sisi posisi pendamping ini sangat penting, karena tanpa passion untuk mau berbaur dengan warga usaha mikro ini tidak akan jalan. Sementara disisi lain, warga harus diposisikan setara dan jangan menyebut mereka sebagai nasabah yang memberi kesan rendah tapi mitra,” imbuh Nurcholis.

Sementara itu, Gabriel Marto dari Credit Union (CU) Pancur Kasih menambahkan bahwa prinsip utama dalam microfinance adalah keyakinan bahwa kemiskinan bisa disembuhkan oleh dirinya sendiri. Apa yang warga miliki kemudian dikembangkan.

Merujuk pengalaman CU Pancur Kasih, Gabriel Marto mengatakan bahwa dalam CU ada tiga pilar utama:Pendidikan, Swadaya, dan solidaritas.“Kita berdiri 1987 dari asset hanya 2 juta hingga sekarang menjadi 1,3 Triliun karena ketiga prinsip dasar itu. Awalnya kita bergerak menghimpun orang memberi pemahaman, pendampingan kepada masyarakat dan saling percaya. Intinya finansial saja tidak cukup, harus ada persoalan lain yang dibangun seperti kswadayaan dan keberdayaan. Disinilah pentignya pendidikan,” imbuh Gabriel Marto.

Menanggapi pernyataan Gabriel tersebut, Jimmy dari Bina Mitra Usaha Nusantara (BMU Nusantara) menjelaskan bahwa selain modal dan skill, apa yang diperlukan adalah dukungan lingkungan. Maksudnya, untuk melakukan pemberdayaan ekonomi, dukunga lingkungan sekitar, terutama dari keluarga sangat penting.

“Kita menjalankan pembedayaan ekonomi melalui kewirausahaan, salah satu tantantangan adalah lingkungan, tantangan terdekat adalah keluarga. Banyak usaha, modalnya ada tapi bisa hancur karena pengelolaan keuangan keluarga yang kurang baik. Karena itu, penguatan kapasitas manajemen keuangan keluarga ini sangat penting,” kata Jimmy yang juga konsultan ILO (International Labour Organization) ini.

Karena itulah, kata Jimmy, penguatan kapasitas individu itu sangat penting. Karena bagaimanapun juga kelompok terbentuk sesuai dengan kebutuhan individu sehingga bisa sustain. “Setiap usaha itu awalnya yang mulai adalah individu. Disini yang dilihat bukan semata-mata modal, tapi juga sisi kapasitas dan managemen. Dan persoalan utama yang tidak kalah penting adalah karakter.Karena itu, maka perlu penguatan kapasitas individu dalam pengetahuan, keterampilan, dan perubahan sikap.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan dari INFID (International NGO Forum on Indonesian Development), ITP (Institute Titian Perdamaian), CU Pancur Kasih, Bank Mandiri, Pusat Studi Agama dan Perdamaian-Universitas Surya, AWC (Abdurrhaman Wahid Centre-Universitas Indonesia), Jimmy sangat menekankan metode partisipasif. “pemberdayaan tidak hanya memberikan informasi kepada masyarakat tapi bagaimana menggali pengalaman-pengalaman dari peserta. Bahkan agar bisa sustain, pendamping harus menjadi bagian dari sosial enterpreneur dari usaha yang dilakukan warga. Bisnis to bisnis biasanya bisa sustain,” pungkas Jimmy. (kcd)