Off

Perjalanan program pemberdayaan ekonomi The WAHID Institute sudah hampir menginjak setahun pada Oktober 2014 nanti.  Review atas strategi perlu dilakukan untuk perbaikan program di masa mendatang. Review strategi ini dirasa  penting agar misi utama Kocida dalam mengintegrasikan pendekatan perdamaian dan pemberdayaan ekonomi bisa memberikan dampak positif, mencegah eskalasi konflik keagamaan dengan peningkatan kesejahteraan bisa terwujud di masyarakat.

“Inti program ini adalah businesss in peace, kita bisnis untuk perdamaian. Melalui pemberdayaan ekonomi di Kocida, The WAHID Institute ingin melakukan bisnis dan untuk perdamaian. Ada dua persoalan pokok yang ingin disasar; pertama adalah pengurangan kemiskinan dan pencegahan konflik. Jadi goalnya ada dua: perdamaian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Yenny Wahid, Direktur the WAHID Insitute dalam pembukaan acara “Ekspert Meeting Microeconomic for Peace, di kantor the WAHID Institute,  13 Agustus 2014.

Yenny Wahid menambahkan bahwa gerakan intoleransi terdapat dari semua agama. Munculnya kelompok-kelompok radikal menjadi ancaman global. Di dunia ini tidak ada negara yang mengklaim monokultur, semua multikultur. Multikulturalisme menjadi hal yang mutlak untuk negara dan politik homogenisasi tidak bisa dibenarkan. Sehingga makin pentinguntuk mengawal agar tidak terjebak pada retorika kosong toleransi dan perdamaian.

“The WAHID Institute  ini didirikan 10 tahun yang lalu. Ia menjadi wadah bagi para aktifis Islam yang cinta damai. Dalam perjalanannya, aktifitas yang kami lakukan sangat lumrah seperti yang dilakukan seorang aktifis seperti monitoring, advokasi, pendampingan, seminar, pelatihan, bedah buku dan lain sebagainya. Lalu, kami sadar ada alat lain yang perlu di eksplorasi untuk mewujudkan perdamaian dunia. kami sadar kami perlu melakukan inovasi-inovasi baru dalam program kami, tidak bisa hanya melakukan pendampingan dan advokasi tapi kita harus punya alat langsung sehingga menjadi lebih kuat, alat yang kita pilih yakni microfinance,” imbuh Yenny Wahid.

Menurut Yenny Wahid, program pemberdayaan ekonomi Kocida ini merupakan pengejawantahan gagasan mendasar Gus Dur untuk selalu membela kaum yang lemah.Pemberdayaan ekonomi untuk mengurangi kemiskinan dan untuk mewujudkan perdamaian di tengah akar rumput.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan dari INFID (International NGO Forum on Indonesian Development), ITP (Institute Titian Perdamaian), CU Pancur Kasih, Bank Mandiri,  Pusat Studi Agama dan Perdamaian-Universitas Surya, AWC (Abdurrhaman Wahid Centre-Universitas Indonesia), Yenny Wahid menuturkan bahwa model pemberdayaan ekonomi yang dilakukan The WAHID Institute sedikit inovatif modelnya. Focus tetap pada kelompok dan menggunakan sistem tanggung renteng, tapi latar belakang agama yang berbeda menjadi prasyarat utama. Tujuannya agar masyarakatmemiliki kesepahaman dan ada ruang dialog ditingkat akar rumput. Selain itu, ada juga pelatihan kewirausahaan untuk meningkatkan pendapatan anggota

“Karena kami percaya bahwa dukungan financial dan permodalan saja tidak cukup, harus ada kemampuan yang ditingkatkan sehingga modal tersebut bukan malah menjadi masyarakat konsumtif.” Kata Yenny.

Menurut Yenny, masyarakat ini sebenarnya memiliki keinginan yang sama,  hanya ingin hidup sejahtera, anaknya sekolah, bisa berobat ke dokter. Konflik dan permusuhan menjadi pantangan semua orang. Karena itulah, The WAHID Institute ingin mempersatukan keinginan bersama ini. Pada akhirnya tidak hanya dialog dan kesepahaman yang diharapkan tercapai, tapi juga peningkatan kesejahteraan dalam masyarakat.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Miqdad dari ITP mengatakan bahwa pemberdayaan ekonomi ini bisa menjadi strategi de-eskalasi konflik. Karena akar konflik yang paling besar adalah faktor struktural. Sementara banyak lembaga sampai saat ini terlalu terlalu fokus di level advokasi, namun melupakan persoalan di lapangan. Jadi pemberdayaan ekonomi ini bisa menjadi sarana de-eskalasi konflik dari segi factor structural dan bisa menjadi sarana dialog dan pertemuan antar warga.

Pada saat yang sama, Beka Ulung Hapsara dari INFID menegaskan bahwa dua tujuan besar Kocida tersebut harus berjalan seiringan. Pasalnya, banyak lembaga yang sukses membangun ekonomi, tapi gagal menjadikan pelaku ekonomi sebagai kelompok penekan. Ketika ada konflik mereka diam. Warga sudah terkotak dalam kepentingan ekonomi. Karena itulah, penting untuk menjaga ritme dankeseimbagan dalam strategi program.Bukan hanya ekonomi tapi juga pemberdayaan itu sendiri.(kcd)

(kcd)